whatwedodetil

  • Print
  • Email

WHAT WE DO

Peran penting tenaga kesehatan dalam upaya menanggulangi penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA di rumah sakit khususnya upaya terapi dan rehabilitasi sering tidak disadari. Berdasarkan permasalahan yang terjadi di atas, maka perlunya peran serta tenaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan dalam membantu masyarakat yang di rawat di rumah sakit untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat.

Untuk itu dirasakan perlu perawat meningkatkan kemampuan merawat klien dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yaitu asuhan keperawatan klien penyalahgunaan dan ketergantungan NAPZA (sindrom putus zat).

 Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara utuh dan terpadu melalui pendekatan non medis, psikologis, sosial dan religi agar pengguna NAPZA yang menderita sindroma ketergantungan dapat mencapai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Tujuannya pemulihan dan pengembangan pasien baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Sarana rehabilitasi yang disediakan harus memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan (DepKes, 2002).

Sesudah klien penyalahgunaan/ketergantungan NAZA menjalani program terapi (detoksifikasi) dan komplikasi medik selama 1 (satu) minggu dan dilanjutkan dengan program pemantapan (pasca detoksifikasi) selama 2 (dua) minggu, maka yang bersangkutan dapat melanjutkan ke program berikutnya yaitu rehabilitasi (Hawari, 2000).

Lama rawat di unit rehabilitasi untuk setiap rumah sakit tidak sama karena tergantung pada jumlah dan kemampuan sumber daya, fasilitas dan sarana penunjang kegiatan yang tersedia di rumah sakit. Menurut Hawari (2000) bahwa setelah klien mengalami perawatan selama 1 minggu menjalani program terapi dan dilanjutkan dengan pemantapan terapi selama 2 minggu maka klien tersebut akan dirawat di unit rehabilitasi (rumah sakit, pusat rehabilitasi dan unit lainnya) selama 3-6 bulan. Sedangkan lama rawat di unit rehabilitasi berdasarkan parameter sembuh menurut medis bisa beragam 6 bulan dan 1 tahun, mungkin saja bisa sampai 2 tahun (Wiguna,2003).

Dengan rehabilitasi diharapkan pengguna NAPZA dapat:
1. Mempunyai motivasi kuat untuk tidak menyalahgunakan NAPZA lagi.
2. Mampu menolak tawaran penyalahgunaan NAPZA.
3. Pulih kepercayaan dirinya, hilang rasa rendah dirinya.
4. Mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari hari dengan baik.
5. Dapat berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja.
6. Dapat diterima dan dapat membawa diri dengan baik dalam pergaulan dengan lingkungannya.

solusidetil

  • Print
  • Email

SOLUSI

Salah satu upaya dalam meningkatkan akses layanan rehabilitasi ketergantungan narkotika bagi penyalah guna narkotika adalah meningkatkan peran serta masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya rehabilitasi ketergantungan narkotika dengan berbagai modalitas terapi yang digunakan. Peran serta masyarakat tersebut perlu didorong dan dikembangkan mengingat upaya upaya yang telah dilakukan pemerintah belum optimal.

Dikarenakan beberapa kendala dalam pelaksanaannya, antara lain luas wilayah, keanekaragaman budaya, keterbatasan SDM, dana, perbedaan sudut pandang dan kepentingan, serta ketidaktahuan tentang situasi dan kondisi suatu wilayah seperti stigmatisasi terhadap penyalah guna narkotika, keengganan dan ketidaktahuan masyarakat; sementara sebagian besar penyalah guna berada di masyarakat.

 Dengan demikian keterlibatan masyarakat dalam upaya membantu pemulihan penyalah guna merupakan upaya yang sangat potensial dan strategis. Masyarakat sebagai kelompok yang berinteraksi langsung lebih mengetahui karakteristik penyalah guna yang ada di wilayahnya serta kendala di lapangan. Setelah mengetahui besarnya potensi yang dimiliki masyarakat, maka Bidang Rehabilitasi BNN mendorong terbentuknya rehabilitasi ketergantungan narkotika komponen masyarakat, agar tersedia layanan rehabilitasi yang terjangkau.

 Penyalahgunaan dan ketergantungan zat yang termasuk dalam katagori NAPZA pada akhir akhir ini makin marak dapat disaksikan dari media cetak koran dan majalah serta media elektrolit seperti TV dan radio. Kecenderungannya semakin makin banyak masyarakat yang memakai zat tergolong kelompok NAPZA tersebut, khususnya anak remaja (15-24 tahun) sepertinya menjadi suatu model perilaku baru bagi kalangan remaja (DepKes, 2001).

Penyebab banyaknya pemakaian zat tersebut antara lain karena kurangnya pengetahuan masyarakat akan dampak pemakaian zat tersebut serta kemudahan untuk mendapatkannya. Kurangnya pengetahuan masyarakat bukan karena pendidikan yang rendah tetapi kadangkala disebabkan karena faktor individu, faktor keluarga dan faktor lingkungan.

Faktor individu yang tampak lebih pada kepribadian individu tersebut; faktor keluarga lebih pada hubungan individu dengan keluarga misalnya kurang perhatian keluarga terhadap individu, kesibukan keluarga dan lainnya; faktor lingkungan lebih pada kurang positif sikap masyarakat terhadap masalah tersebut misalnya ketidakpedulian masyarakat tentang NAPZA (Hawari, 2000). Dampak yang terjadi dari faktor–faktor di atas adalah individu mulai melakukan penyalahgunaan dan ketergantungan akan zat. Hal ini ditunjukkan dengan makin banyaknya individu yang dirawat di rumah sakit karena penyalahgunaan dan ketergantungan zat yaitu mengalami intoksikasi zat dan withdrawal.

fakta detil

 

Berdasarkan hasil survey nasional oleh Badan Narkotika Nasional bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia pada tahun 2008, di Indonesia menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah penyalah guna narkotika di Indonesia, yakni berjumlah 3.362.519 orang atau tingkat prevalensi meningkat dari 1.55% pada tahun 2004 menjadi 1.9% dari total populasi.

 

Sebanyak 3.362.519 orang penyalah guna narkotika tersebut, terdistribusi sebanyak 874.255 orang sebagai kelompok coba pakai, 907.880 orang sebagai kelompok teratur pakai, dan 1.580.384 orang sebagai kelompok penyalahguna (Jurnal Data BNN, 2010).

 

Jumlah penyalah guna narkotika coba pakai sebagian besar berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa yakni sebesar 90%, penyalah guna narkotika kelompok teratur pakai sebagian besar berdasar dari kalangan bukan pelajar dan mahasiswa yakni sebesar 60%, dan kelompok penyalah guna sebagian besar juga berasal dari kalangan bukan pelajar dan mahasiswa yakni sebesar 80%. Baik kelompok penyalah guna narkotika coba pakai, teratur pakai dan penyalah guna sebagian besar berasal dari kalangan laki laki yaitu sebesar 88% dan kalangan perempuan hanya sebesar 12%. Jumlah penyalah guna tersebar di seluruh daerah/propinsi di Indonesia. Prevalensi tersebut meningkat pada tahun 2010 menjadi 2.21% dari jumlah populasi atau setara dengan 3.8 juta jiwa.

 

Sedangkan jumlah penyalah guna narkotika yang mengikuti terapi dan rehabilitasi masih sangat rendah. Sesuai dengan hasil pengumpulan data yang dilakukan oleh Pusat Terapi dan Rehabilitasi BNN (Jurnal P4GN, 2010) jumlah dari penyalah guna yang mengakses layanan terapi, baik rawat jalan maupun rawat inap pada tahun 2009 sebesar 17.734 orang, berarti hanya sekitar 0.5% dari penyalah guna narkotika yang mendapat layanan terapi dan rehabilitasi, sedangkan 99.5% penyalah guna lainnya berada di masyarakat (keluarga, sekolah, tempat kerja, dan komunitas lainnya).

 

 Sehubungan dengan hal tersebut di atas, peningkatan jumlah penyalah guna narkotika di Indonesia sudah seharusnya diimbangi dengan perluasan akses ke sarana/fasilitas rehabilitasi ketergantungan narkotika baik yang dikelola oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi upaya rehabilitasi ketergantungan narkotika di Indonesia ditengah tengah terbatasnya sarana/fasilitas rehabilitasi bagi penyalah guna narkotika